Hipotesis berganda dan tinjauan filosofis

Hipotesis atau hipotesa adalah dalam pengertian yang lebih umum diartikan sebagai jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.

Dengan pendekatan logic, bahwa hipotesis mempunyai kandungan tentative terhadap sebuah pernyataan ilmiah. Kandungan tentantive ini yang kemudian memberikan ruang untuk mengikuti alur ilmiah atau yang disebut dengan pengujian hipotesis. Tetapi tentunya bahwa tidak semua pernyataan atau dugaan disebut dengan hipotesis. Disebut sebagai hipotesis dikarenakan perntayaan tersebut memiliki kekuatan dalam memprediksi kebenaran yang dibangun melalui hasil pengamamatan, dan hukum-hukum yang telah dihimpun sebelumnya, yang pernyataan tersebut memiliki kekuatan untuk mendekati kebenaran.

Karena hipotesis merupakan hasil dari berfikir logis yang mengikuti runutan dan arah tertentu, maka hipotesis tidak hanya sekedar dan dapat diselesaikan dengan cara yang tidak logis pula, tetapi diuji dan dikembangkan melalui alur ilmiah atau metode ilmiah. Sejauh mana pernyataan hipotesis tentang sesuatu dapat menerangkan fenomena spesifik yang teramati, dengan kenyataan realitas yang ada. Termasuk kemungkinan juga membandingkan hipotesis yang berbeda dan terlibat dalam penjelasan bersaing dari sebuah peristiwa yang sama.

Dalam lapangan ilmu pengetahuan, tidak ada pernyataan yang tak dapat diuji dan diamati, karena ilmu pengetahuan adalah prosedur penemuan dan evaluasi hipotesis yang dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa hal-hal seperti itu dapat terjadi? Sehingga ini batas pembeda dengan pernyataan agama (misalnya) yang memiliki sifat menjadi pernyataan mutlak. Karena lapangan pengetahuan ilmiah mewajibkan pada sesuatu yang bisa di uji atau empiris, tetapi agama lebih menekankan pada keyakinan (beliefe).

Penjelasan ilmiah adalah proposal tentatif, yang ditawarkan dengan harapan dapat menangkap akurasi terbaik pada materi tetapi tunduk pada evaluasi, modifikasi, atau bahkan menjungkir-balikkan ketika ada lawan hipotesis berbeda yang memiliki bukti yang lebih kuat. Kehandalan dapat terjadi ketika melalui rangkaian pengujian dan hipotesis semakin menunjukkan nilai prediksi terhadap realitas dengan kuat (testability).

Hipotesis berganda (Multiple Hypotesis) berangkat dari asumsi bahwa sebuah nilai prediksi memiliki kekuatan terhadap peristiwa maupun situasi yang lain. Misalnya tentang pernyataan tentang tingkat pendidikan orang tua terhadap motivasi belajar anak. Dalam aspek yang lain mungkin hipotesis tentang tingkat pendidikan orang tua memilliki daya untuk memprediktif situasi lain, misalnya terhadap kecerdasan emosional anak. Ragamnya kekuatan prediksi terhadap situasi yang lain akan semakin menunjukkan akan nilai kekuatan sebuah hipotesis. Walaupun disini bukan kemudian satu cara untuk mendekati pernyataan universal. Karena pernyataan universal dalam sebuah hipotesis ditujukan pada situasi tertentu yang berlaku universal.

Ada beberapa kriteria bagi hipotesis untuk di evaluasi sebagai bentuk pernyataan ilmiah dan memiliki keandalan dalam pernyataannya:

  • Relevansi. Mengandung nilai premis dari sebuah argumen deduktif yang kesimpulannya valid dan sesuai untuk dijelaskan. Struktur hipotesis memiliki relevansi terhadap kenyataan dan yang dipandang paling kuat dan mungkin.
  • Testability. Dapat dibuktikan atau telah dibuktikan dengan metode ilmiah, sehingga hipotesis dapat didudukkan sebagai yang telah konfimasi atau disconfirmation. Testability merupakan salah satu langkah bahwa sebuah hipotesis telah melalui falsifikasi. Bahkan melalui falsifikasi sebuah hipotesis dapat dijungkir balikkan menjadi sebuah pernyatan yang tidak ilmiah, karena diakibatkan dari hasil pembuktian yang kemudian tidak mendukung sebuah hipotesis. Ukuran dari sejauh mana hipotesis telah berpredikat sebagai yang testability bahwa pernyataan telah dibuktikan dan sesuai serta semakin terasing dari pernyataan yang metafisis. Selain bahwa testability yang kemudian memberikan peringkat nilai kekokohan pada sebuah hipotesis.
  • Compatibility. Nilai sebuah Hipotesis harus sesuai dan memenuhi prinsip urutan alamiah. Sebuah hipotesis berdiri dan terus tumbuh untuk menyempurnakan dan memperluas pohon pengetahuan. Banyaknya penyelidikan ilmiah yang berangkat dari berbagai rangkaian hipotesis. Menjadi satu pertimbangan dalam meng-compability dalam sebuah hipotesis baru. Walaupun bentuk ini tidak kemudian menjadi mutlak, karena mungkin dan bisa saja sebuah hipotesis yang baru dapat mengurangi atau meruntuhkan hipotesis yang lama jika memiliki tingkat signifikansi yang lebih tinggi atau yang lebih sesuai ketika kesimpulannya memiliki bukti yang lebih kuat. Revolusi ilmiah dapat terjadi, tanpa harus patuh pada nilai compability.
  • Prediktif. Sebuah hipotesis yang baik adalah bukan hanya suatu cara untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa tunggal, tetapi akan berlaku untuk banyak jenis situasi, sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, bahwa asumsi ini yang kemudian melahirkan adanya hipotesis berganda atau multiple hypotesis. Seperti pernyataan Vygotsky tentang lingkungan dan bantuan orang dewasa. Perkembangan kognitif dipengaruhi multiple aspek yaitu lingkungan dan orang dewasa. Kekuatan prediktif ini menggambarkan bahwa peristiwa tunggal tidak hanya diakibatkan oleh peristiwa tunggal. Tetapi ada kekuatan lain yang memprediksi bahwa peristiwa tunggal dipengaruhi oleh beberapa situasi yang lain (jamak).
  • Simplicity. Hipotesis merupakan sebuah pernyataan yang memiliki kerumitan dalam struktur pernyataan. Sebuah pernyataan memiliki kesederhanaan dan kekuatan yang mendalam. Istilah yang sering digunakan oleh filosof  adalah ”keanggunan yang mendalam dan martabat” dengan menggunakan karakter yang sederhana. Sebuah hypotesis dinyatakan dengan kesederhaanya dan dapat dipahami, disamping didalamnya mengandung kekuatan yang luar biasa yaitu usaha prediksi. Sebab-akibat dapat dinyatakan dengan jelas sebagai sebuah pernyataan universal terhadap peristiwa-peristiwa tertentu.

(by Dedi Haryono, Dosen Universitas Islam Madura)